Berita kami

Siap Siaga Hadapi Epidemi dan Pandemi, Desa Sobokerto Boyolali Jadi Pilot Project Surveilans Berbasis Masyarakat Dengan Terapkan CP3 PMI

06 January 2022 Pemerintahan
Foto : Vice Chair IFRC Indonesia Ruth Lanesaat (kanan) saat menyampaikan paparan terkait Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) program Palang Merah Indonesia (PMI) Community Epidemic and Pandemic Preparedness (CP3) yang sudah diterapkan di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak. Di Ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali. Kamis (6/1/2022)
 
BOYOLALI – Terjadinya pandemi Covid-19 yang melanda dunia dua tahun belakangan ini, membuat berbagai elemen baik dari tingkat desa hingga dunia bersinergi dalam upaya penanggulangan bencana kesehatan tersebut. Hari ini Kamis (6/1/2022), Boyolali menerima kunjungan dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI) dan perwakilan dari International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) di ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali. Kunjungan lapangan tersebut terkait Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) program Palang Merah Indonesia (PMI) Community Epidemic and Pandemic Preparedness (CP3) yang sudah diterapkan di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.
 
Asisten Deputi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Kemenko PMK RI Nancy Dian Anggraeni menyampaikan dalam sambutannya, masyarakat Indonesia ternyata masih rentan dengan masalah kesehatan, terutama menghadapi penyakit-penyakit yang baru yang berpotensi menjadi KLB (kejadian luar biasa) maupun pandemi, seperti pandemi Covid-19.
 
“Pandemi Covid-19 ini memberikan kita pembelajaran bahwa kita harus selalu meningkatkan kesiapsiagaan, dan kita bisa cepat merespon ini setiap adanya ancaman kesehatan masyarakat yang bisa berpontensi menimbulkan wabah dan kedaruratan kesehatan masyarakat yang timbul dari sekitar lingkungan kita.” jelasnya.
 
Program CP3 bertujuan memperkuat kemampuan masyarakat untuk dapat mencegah, mendeteksi dan merespon ancaman penyakit dan melakukan peran penting dalam mempersiapkan dan mengurangi risiko epidemi dan pandemi. Dikatakan Nancy, kedepannya Pelaksanaan SBM CP3 di Boyolali ini akan diterapkan di seluruh wilayah di Indonesia.
 
Senada, Vice Chair IFRC Indonesia Ruth Lane mengatakan, pandemi ini telah menunjukkan bahwa menjaga kesehatan dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia merupakan tanggung jawab bersama dengan meningkatkan pemahaman tentang Covid-19 serta peranan penting masyarakat untuk melakukan pencegahan, deteksi, pelacakan, melapor dan merespon.
 
“In Indonesia, we have seen that a successful engangement of communities to perform these roles, together with health institutions. That is why, under the CP3 project, PMI has been training community volunteers about epidemic control including how to monitor, trace and report the occurrence of disease at the community level and setting up systems to capture this information. [Di Indonesia, kami melihat keberhasilan dalam menanggapi pandemi tidak luput dengan keterlibatan aktif masyarakat untuk melaksanakan perannya melalui sinergi dengan instansi kesehatan. Oleh karenanya, kegiatan CP3 PMI telah berupaya untuk melatih relawan masyarakat tentang penanggulangan epidemi, agar dapat melakukan pemantauan, pelacakan dan melaporkan kejadian terjadinya sebuah penyakit yang dimulai di tingkat desa serta membangun system informasinya.]” ujarnya.
 
Dalam sambutannya, Bupati Boyolali M. Said Hidayat mengungkapkan rasa syukurnya atas kesadaran masyarakat Boyolali yang sudah bagus. Dengan kehadiran rombongan ini akan memberikan energi positif dan meningkatkan semangat untuk menjaga kesehatan masyarakat. Masih banyak penyakit yang harus diperhatikan termasuk yang ditimbulkan oleh hewan.
 
“Saya kira masyarakat dengan semangat metalnya, akan memberikan peran aktifnya, bagaimana masyarakat Boyolali ini terjaga kesehatannya dan aman dari wabah penyakit.” ungkap Bupati Said. (Tim Liputan Diskominfo Kabupaten Boyolali)
BAGIKAN ARTIKEL INI